Hidup Mulia Atau Mati Syahid

Cari Blog Ini

Minggu, 13 Juni 2010

cita-cita

Hai kawan-kawan,saya Amanda. Tajuk karangan saya ialah 'Cita-cita saya.'

Seperti orang lain,saya juga mempunyai cita-cita sendiri. Cita-cita ialah kerjaya pada masa depan. Cita-cita saya ialah doktor. Saya ingin menjadi doktor kerana saya ingin membantu orang lain mengubati penyakit yang mereka sedang hadapi.

Kerjaya seperti doktor,bagi saya ia suatu pekerjaan yang sangat susah. Seorang doktor tidak mementingkan diri sendiri. Mengapa saya berkata demikian? Ia kerana seorang doktor sanggup pergi ke hospital pada lewat malam hanya untuk menyelamatkan seseorang daripada kehilangan nyawa!

Selain dapat mengubati orang,saya juga berpeluang belajar di luar negara. Sambil belajar,saya juga boleh melawati tempat-tempat yang menarik di negara tersebut. Oleh demikian,kawan-kawan menjadi seorang doktor bukannya mudah. Jika kita benar-benar ingin memiliki kerjaya pada masa depan,berusahalah dengan tekun.

" Imtaq "

Implementasi pendidikan imtaq
RAMADAN baru saja usai. Adalah bulan yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran bagi ummat Islam, untuk mencapai prestasi terbaik menurut Allah SWT, yaitu menjadi muttaqin. Melalui olah lahiriyah, manusia dididik untuk menahan dan mengendalikan sifat hayawaniyah. Pengendalian diri terhadap hal-hal duniawiyah menjadi media yang efektif untuk lebih memudahkan manusia mendekatkan diri dan cinta kepada Allah SWT.
Kedekatan dan cinta manusia terhadap Allah SWT dicapai melalui pendirian salat wajib dan sunnah, berdzikir, membaca Alquran, serta amalan-amalan lain yang diridloi oleh Allah SWT menjadi modal penting untuk mencapai predikat taqwa dalam arti yang sesungguhnya.
Selain berpuasa, sarana lain untuk mencapai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT adalah dengan pendidikan. Pembentukan karakter bangsa Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis sebagaimana yang selalu dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional sudah sepatutnya selama Ramadan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Realitas kehidupan dalam penyelenggaraan negara masih diwarnai dengan korupsi. Korupsi di negara kita bagai kentut, yaitu ada baunya tetapi sulit dibuktikan wujudnya sehingga upaya pemberantasan korupsi sebagian besar hanya jalan di tempat.
Ditinjau dari pemenuhan kebutuhan, pada umumnya para koruptor adalah orang-orang yang kebutuhan fisik baik untuk dirinya maupun keluarganya telah tercukupi. Mereka juga telah mendapatkan pengakuan terhadap kedudukan dan jabatan yang terhormat oleh orang-orang di lingkungannya. Mengapa mereka masih tidak mensyukuri nikmat Allah SWT dengan sikap yang amanah dan dapat dipercaya dalam menjalankan tugasnya?
Refleksi peningkatan keimanan dan ketaqwaaan (imtaq) siswa terhadap Tuhan YME terkait dengan bidang pendidikan adalah sejauhmana ketercapaian tujuan pendidikan dalam meningkatkan imtaq terhadap Tuhan YME? Dan bagaimana implementasi pendidikan imtaq terhadap Tuhan YME dalam proses pembelajaran?
Ketercapaian tujuan pendidikan dalam bidang keimanan dan ketaqwaan masih jauh dari yang diharapkan. Dalam skala mikro pada kehidupan di kelas ditunjukkan antara lain masih banyak siswa yang tidak mencintai kebersihan, karena sering kali dijumpai tempat sampah di kelas kosong namun di laci meja banyak bungkus premen dan makanan lainnya.
Realitas di atas kelihatannya sepele tetapi memiliki nilai edukasi yang tinggi. Sikap menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak disembunyikan merupakan perilaku awal dari koruptor dan perilaku tersebut dapat mendatangkan tikus serta binatang menjijikkan lain untuk beramai-ramai memakan barang yang disimpan itu.
Perilaku lain dari sebagian besar siswa yang berpotensi membentuk sikap sebagai koruptor adalah tidak jujur dalam ulangan. Pada saat ulangan seharusnya guru/pengawas bertugas mengawasi siswa-siswanya agar hasilnya objektif dan dapat dijadikan bahan evaluasi pada proses pembelajaran selanjutnya. Hal yang seringkali terjadi adalah sebaliknya yaitu sebagian besar siswa mengawasi guru/pengawasnya, sehingga jika guru/pengawas lengah maka banyak siswa saling mencontoh jawaban dari temannya. Sikap siswa yang tidak mau belajar keras dan cenderung serba instan tersebut akan membangun generasi yang tidak tahan uji, memiliki daya saing rendah, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Fenomena kecil dari sikap tidak mencintai kebersihan dan berperilaku jujur tersebut membuktikan bahwa nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME belum terintegrasi secara utuh dalam setiap pembelajaran.
Upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas harus diawali dengan sikap adaptif guru terhadap dinamikan perkembangan siswa-siswanya.
Perkembangan setiap siswa harus terisi oleh nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan melalui proses pembelajaran oleh guru. Guru harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai imtaq kepada siswanya dalam setiap pembelajaran agar jiwa siswa tidak kering dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Pengintegrasian nilai-nilai ketuhanan dalam setiap pembelajaran menjadi sangat penting untuk menancapkan tiang pancang konstruksi kepribadian siswa yang dalam dan kuat sehingga mampu menahan getaran, dorongan, dan tarikan dari dampak negatif globalisasi yang mengukur keberhasilan seseorang dari segi materi saja.
Dampak negatif era globalisasi dan informasi diharapkan tidak akan menggoyahkan kepribadian siswa karena dalam diri siswa selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam kehidupannya. Kedekatan siswa dengan Allah SWT dapat menyejukkan jiwanya sehingga perilakunya seharihari menjadi berakhlakul karimah.
Upaya Pemerintah membangun kepribadian siswa yang tangguh tidak cukup hanya dengan menuliskan dalam setiap perubahan kurikulum bahwa tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa terhadap Tuhan YME.
Peningkatan imtaq terhadap Tuhan YME juga tidak boleh hanya sebatas menulisnya dalam visi dan misi setiap sekolah yang unggul dalam prestasi dan luhur budi pekerti. Semua sekolah harus segera membuat action plan tentang pembelajaran bervisi Imtaq, melaksanakannya, dan mengevaluasinya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Implementasi pendidikan Imtaq terhadap Tuhan YME juga membutuhkan konsistensi Pemerintah terhadap pencapaian tujuan pendidikan nasional dan regulasi bidang pendidikan yang jelas agar guru-guru mau dan mampu merealisasikannya dalam setiap mata pelajaran serta semua tingkatan dengan pembelajaran bervisi imtaq.
Kemauan dan kemampuan guru mengintegrasikan nilai-nilai Imtaq siswa terhadap Tuhan YME memerlukan petunjuk pelaksanaan dan teknis dari Pemerintah yang simple dan mudah dipraktikkan di sekolah. Tindak lanjut dari proses dan hasil belajar bervisi imtaq adalah dengan evaluasi pembelajaran yang memprioritaskan aspek afektif.
Pendidikan sebagai instrumen pemerintah untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus terus dipraktikkan oleh guru sebagai ujung tombak keberhasilan proses pendidikan.
Proses pendidikan yang hanya bertahta di otak manusia dan kurang menghiraukan keadilan serta nilainilai ilahiyah akan menghasilkan generasi yang individualistis, materialistis, dan memisahkan otak dan hati. Tidak terintegrasinya otak dan hati dalam diri siswa akan melahirkan generasi sekuler yang cenderung memisahkan iptek dan agama.
Perilaku sebagian siswa yang cenderung materialistis, individualis, dan memisahkan iptek dengan imtaq harus diantisipasi oleh semua guru dengan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai Imtaq kepada Allah SWT.
Penanaman nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dapat membasahi jiwa siswa agar menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlakul karimah sebagaimana yang terdapat dalam tujuan pendidikan nasional.
Kurangnya pemahaman guru dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara utuh yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME sangat berpotensi melahirkan generasi yang berakhlak rendah.
Akhlak atau nilai-nilai hidup dapat diukur melalui ucapan, tatapan mata, dan gerakan indra yang lain sehingga tidak menjadi alasan bagi guru untuk tidak mengintegrasikan nilai-nilai imtaq dalam setiap pembelajaran. Jika dalam setiap pembelajaran, guru mau mengalokasikan waktu sekitar lima menit untuk mengisi jiwa siswa dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan, insya Allah dapat membangun kepribadian siswa yang tangguh dan islami yang taat menjalankan perintah- perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya.  hf
Drs Haryono MPd
Guru SMAN I Ungaran,
Dosen (HR) FT IAIN Walisongo

Rabu, 09 Juni 2010

Tekhnologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Telescope dengan menggunakan teknologi yang sangat canggih
Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya amat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri.[1] Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika kita merenungkan masalah teknologi, menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasi budaya kita.[1] Sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru.[2] padahal, kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer.[2] Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.[2]

[sunting] Sejarah Teknologi

Perkembangan teknologi berlangsung tidak secara mendadak, tetapi berlangsung secara evolutif.[3] Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan telah nampak berorientasi ke bidang teknologi.[3] Secara etimologis, akar kata teknologi adalah "techne" yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni.[3] Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni, Khususnya Mesin (Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical).[3]

[sunting] Kemajuan Teknologi

Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.[4]
Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :[4]
  • Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress)
    Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
  • Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress)
    Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
  • Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological progress)
    Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modal.
Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang.[5] Di lain pihak suatu kebijaksanaan 'pintu yang lama sekali terbuka' terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit.[5]

cinta

Cinta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Definisi

Cinta adalah satu perkataan yang mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa di alami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
  1. Perasaan terhadap keluarga
  2. Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
  3. Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
  4. Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
  5. Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
  6. Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
  7. Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
  8. Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
  9. Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme
Pengunaan perkataan cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:
  1. Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
  2. Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
  3. Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
  4. Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge

[sunting] Etimologi

Beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuna, yang membedakan antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
  1. Pengenalan
  2. Tanggung jawab
  3. Perhatian
  4. Saling menghormati
Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggungjawab pada si anak. Sementara tanggungjawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para orang tua, guru, rohaniwan dll pada sikap otoriter.

[sunting] Jenis-jenis cinta

Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.
Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada 'jiwa' atau pikiran, cinta hukum dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.
Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya

[sunting] Cinta antar pribadi

Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antara manusia. Bentuk ini lebih dari sekedar rasa kesukaan terhadap orang lain. Cinta antar pribadi bisa mencakup hubungan kekasih, hubungan orangtua dengan anak, dan juga persahabatan yang sangat erat.
Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi:
  • Afeksi: menghargai orang lain.
  • Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain (yang tentunya sangat jarang kita temui sekarang ini).
  • Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan (bukan saling memanfaatkan).
  • Commitment: keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
  • Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa.
  • Kinship: ikatan keluarga.
  • Passion: Hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
  • Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya hubungan seksual.
  • Self-interest: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk memanfaatkan pasangan.
  • Service: keinginan untuk membantu dan atau melayani.
  • Homoseks: Cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama, khususnya bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian (lesbi).
Energi seksual dapat menjadi unsur paling penting dalam menentukan bentuk hubungan. Namun atraksi seksual sering menimbulkan sebuah ikatan baru, keinginan seksual dianggap tidak baik atau tidak sepantasnya dalam beberapa ikatan cinta. Dalam banyak agama dan sistem etik hal ini dianggap salah bila memiliki keinginan seksual kepada keluarga dekat, anak, atau diluar hubungan berkomitmen. Tetapi banyak cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang tanpa seks. Afeksi, keintiman emosi dan hobi yang sama sangat biasa dalam berteman dan saudara di seluruh manusia.